Traveling Sambil Belajar Menghargai Perbedaan di Penang

Senin, 16 April 2018 18:23


(ist)

108jakarta.com - Perbedaan seharusnya tidak menjadi jurang pemisah, melainkan persatuan. Traveling ke Penang, traveler bisa belajar banyak tentang toleransi.


Sebagai negara dengan mayoritas umat muslim, Malaysia mungkin bisa dibilang lebih menghargai perbedaan ketimbang Indonesia. Buktinya dapat dilihat di Kota Penang yang cukup majemuk.


Penang bisa menjadi salah satu percontohan di mana kemajemukan bisa saling menghargai satu sama lain. Buktinya, masyarakat lintas agama dan budaya di sana bisa berbaur satu sama lain.


Sejarahnya, Penang yang berlokasi Selat Malaka merupakan titik pertemuan kapal dari Samudera Hindia dan Samudera Pasifik. Sekaligus menjadi tempat pertukaran agama dan budaya antara Timur dan Barat sejak ribuan tahun silam.


Selain dihuni oleh masyarakat melayu yang beragama Islam, Penang juga menjadi rumah bagi imigran Tionghoa hingga India. Percampuran budaya dan agama pun terjadi. Dari yang tadinya hanya Islam, lalu bertambah Buddha dari imigran China dan Hindu dari imigran India. Lalu ada juga ada agama Kristen yang dibawa oleh penjajah Inggris dulu.


Di tengah perbedaan itu, setiap masyarakat dari berbagai ras dan agama itu diperbolehkan untuk melakukan kegiatan keagamaan hingga ritual budaya di ruang publik. Bahkan traveler juga bisa mendapati berbagai rumah ibadah dari agama berbeda di satu blok yang berdekatan. Tidak ada masalah.


Toleransi itu pun tidak terlepas dari peran serta Kapten Francis Light dari Inggris yang memimpin Malaka kala itu. Pada abad ke-18, Francis menyatakan kalau setiap suku memiliki hak serta kebebasan untuk menjalankan agamanya. Sekilas mengingatkan kita akan sosok Soekarno yang juga menjunjung tinggi persatuan di atas kemajemukan.


Bahkan di tahun 2008 lalu, UNESCO menyebut kalau ibukota George Town di Penang menjadi bukti nyata dari peninggalan multikultur dan tradisi Asia dan pengaruh Eropa.


Menariknya, traveler bisa melihat bukti toleransi itu di Jalanan Harmoni atau 'Street of Harmony' di George Town. Di mana masjid, gereja, kuil Hindu dan kelenteng dibangun beriringan satu sama lain.


Tentunya relevan, jika menyebut Penang masih menerapkan petuah lama 'Golden Rule'. Perlakukan kepada orang lain seperti kamu ingin diperlakukan.


(ayb/int)


Berita Terkait
Melihat Legenda Sepakbola di Johan Cruijff Arena
Wajah Baru Suzuki Ertiga!
Targetkan 8000 Unit Hingga Akhir Tahun, Glory 580 Siap Jadi Rebutan
All Nippon Airways (ANA) dan HSBC Indonesia Hadirkan “HSBC – ANA Travel Fair
Motor Keluarga Presiden Ada di IIMS 2018?

Please login for commentKomentar
Haries
Nah hal seperti ini yang perlu banget
suiyong
harus nya saling menghargai terhadap sesama dan saling membantu walau agama berbeda.
pakaihatidong
Wow. Tempat yg pastinya untuk jiwa yang cinta damai walau banyaknya perbedaan di tempat itu.
Dzulfikar
indahnya toleransi, bisa saling membantu ketika membutuhkan
Samuel
perbedaan itu baik karena kalau sama semua ga asyik dan ga saling melengkapi
Bayu
Wah hebat selain negara dengan mayoritas muslim. Ternyata Penang di Malaysia juga menghargai keberagaman. Selain itu di penag terdapat. Jalanan Harmoni atau 'Street of Harmony' di George Town dimana traveler bisa melihat rumah ibadah di bangun secara berdampingan
Renny
penang itu deket banget sama negara kita ya, mungkin bahasanya juga rada mirip kali ya -r-