Sampah Kemasan Makanan Polistirena Paling Berharga Nilai Ekonomisnya

jumat, 23 Februari 2018 17:23


(ist)

108jakarta.com - Menurut studi yang dilakukan oleh LTPM Institut Teknologi Bandung, Indonesia merupakan negara dengan konsumsi plastik sekitar 22,54 kg per orang per tahun dan ini merupakan angka terkecil dibandingkan negara tetangga seperti Singapura, Malaysia dan Thailand yang rata-ratanya sekitar 60 kg per orang per tahun. 


Sekitar 0,53 % dari pada sampah plastik di negeri ini terbawa aliran sungai yang kemudian berakhir di laut. Dengan jumlah yang seperti ini Indonesia tidaklah masuk dalam 20 negara terbesar dunia pengotor sampah plastik di laut. 


Banyak orang percaya bahwa Styrofoam (kemasan makanan berbahan polistirena) menjadi penyebab polusi di daratan maupun lautan karena polistirena membutuhkan waktu yang lama untuk terurai alami. 


Padahal Polistirena sangat bisa didaur-ulang dan dengan managemen sampah yang ideal bisa diciptakan lingkungan yang berkelanjutan dengan menggunakan Polistirena. 


“Sampah ini sudah menjadi momok di Indonesia. Perlu ada sinergi antara pemerintah, industri dan masyarakat dalam hal sampah ini. Padahal sampah, jika diolah dengan sistem terpilah seperti MASARO (Management Sampah Zero), akan menghasilkan nilai ekonomi dan mendatangkan keuntungan bagi yang melakukannya,”ujar Kepala Laboratorium Teknologi Polimer dan Membran Institut Teknologi Bandung (ITB), Ir. Akhmad Zainal Abidin, M.Sc., Ph.D. 


Ia juga menekankan bahwa Polistirena adalah materi yang paling berkelanjutan untuk lingkungan dibandingkan bahan kemasan makanan lainnya. 


“Kemasan makanan berbahan kertas jarang sekali di daur-ulang karena tidak ada cara ekonomis untuk itu. Kita akan membutuhkan biaya yang tinggi untuk memisahkan kertas dan lapisan plastiknya. Juga, biasanya, produsen kertas tidak mau menggunakan pulp kertas bekas,” tambahnya.


Dirinya  memperkenalkan suatu konsep pengeloaan dan pengolahan sampah bernama MASARO (Management Sampah Zero) dalam acara Media Workshop bertajuk “Strawberry Tidak Menyebabkan Kanker – Fakta dan Mitos Di Balik Styrofoam” di Jakarta pada bulan Januari silam. 


Hingga saat ini, MASARO sendiri sudah dicoba di beberapa daerah di Indonesia seperti di Indramayu, Majalengka, Cirebon, Karawang, Solo, Anambas dan  Pekanbaru. 


Cara kerja MASARO  yaitu sampah dipisahkan antara sampah yang dapat membusuk dan yang tidak dapat membusuk. Untuk sampah yang membusuk akan dikumpulkan dan diolah menjadi pupuk dan pakan organik cair. Pupuk dan pakan organik cair ini dapat dijual untuk kebutuhan pertanian dan peternakan. (suh)


Berita Terkait
Malindo Air Terbang Langsung Ke Nanning, Tiongkok
Keajaiban Santiago Compostela
Jalan-jalan Di kota Pulau Vancouver
Sudut-Sudut Eksotik Bratislava
Menghayati Lukisan di The Sorolla Museum

Please login for commentKomentar
sumaryani
jadi sampah jenis ini benar benar berharga untuk di jadikan barang daur ulang
Jaebum
Padahal sebelumnya sampah jenis Polistirena ini jadi momok karena tidak bisa didaur ulang
ata
Syaa suka yg ekonomis
Juragan
biar orang pintar dan ahlinya yang handle ini, ga usah ngapa ngapain kita oang geblek mah
Mama
CAra menangani limbah sampah memang harus diperhatikan dan dipelajari dengan baik supaya makin bersih dunia ini , terutama dinegara kita , siapa tahu sampah yang bertumpuk itu bisa menadapatkan nilai ekonomi yang menguntungkan
Mawar
wah ini tempat sampah yang berinovasi baik, nah kan jadi warga tidak lagi buang sampah sembarangan, karena sampah nya bisa bermanfaat
alya
keren sekali nih tong sampah yg prastis dan mudah untuk digunakan
mustafa
semoga bisa berguna bagi masyarakat, dan bisa diusulkan agar setiap keluarga mempunyai mesin seperti ini
Mas
yang begini emang harus dijalankan di seluruh penjuru wilayah indonesia
CaffeLatte
gilesaaann ternyata banyak fakta menarik juga nih yang ane dapat dari artikel ini
12